Pengantar Redaksi

Perjalanan panjang Kediri melahirkan banyak hal yang kelak mengawali keberlangsungan sejarah berikutnya. Seperti arus sungai yang susul-menyusul, sejarah Kediri bergerak dalam lapisan-lapisan tebal, panjang, kerap tak saling berhubungan. Salah satu noktah yang turut mewarnai peradaban yang beragam itu adalah sosok Tan Khoen Swie, lelaki Cina yang turut memahatkan keniscayaan berubahnya tradisi lesan ke dalam tradisi tulis. Bagaimana sepak terjang Tan di semak-belukar sejarah Kediri, Dwidjo U. Maksum melakukan penelusuran yang kemudian diracik secara bersambung untuk para pembaca kediripedia.com di manapun berada.

INFOGRAFIS

Geser/slide gambar ke samping menggunakan mouse atau layar touch Anda.

TAN KHOEN SWIE DAN RUMAH TUA DI JALAN DOHO

Sebuah bangunan tua kokoh berdiri di kawasan pertokoan Jl. Doho, Kota Kediri, Jawa Timur. Tak seperti deretan toko lain di kawasan bisnis Kota Kediri yang umumnya bergaya modern, bangunan itu nampak kusam tanpa kilatan lampu billboard atau papan nama mentereng. Di atas pintu depan hanya terlihat papan kayu warna biru bertuliskan toko “SURABAYA”. Beberapa tahun terakhir, tulisan itu diremajakan dan terlihat lebih segar.

Toko kelontong yang dulu bernama “SOERABAIA” itu kini menjual bahan makanan seperti abon, dendeng, krupuk, dan aneka kue kering. Di sebelah kiri toko terdapat bangunan berukuran 12 meter persegi, yang sehari-hari berfungsi sebagai tempat praktek dokter gigi. Sang ahli gigi itu adalah drg, J Sutjahjo Gani, cicit (buyut) Tan Khoen Swie, penerbit legendaris di Kota Kediri.

Berdasarkan foto tua yang bisa ditemukan kediripedia.com dari ahli waris Tan, selain menjadi pusat boekhandel (penerbitan) dan toko buku, juga menjadi pusat penjualan ban mobil dan pompa bensin.

“Ya, inilah sisa peninggalan kakek buyut saya, tempat beliau berkarya dan menjalankan kegiatan spiritual sekitar 70 tahun silam,” kata Gani usai menjalankan tugasnya melayani puluhan pasien sakit gigi yang berjubel sejak sore hari.

Dalam perbincangan di akhir bulan Ramadan 2015, Gani mengaku bukan ahli waris buku-buku peninggalan Tan Khoen Swie. Namun dia setiap hari merawat dan menjaga ribuan buku yang menumpuk di lantai tiga rumah tua itu. Bersama istrinya, Lena Irawati dan dua anaknya: Vanya dan Catriona, lelaki kelahiran Kediri 18 Januari 1963 ini menempati salah satu kamar di lantai dua, persis di bawah bangunan bekas tempat aktivitas spiritual Tan Khoen Swie. Kedua anaknya kini kuliah di Surabaya, meneruskan jejak Gani belajar menjadi dokter gigi.

Menurut Gani, pada masa jayanya sekitar tahun 1921, toko Surabaya adalah pusat penjualan boekhandel (penerbit) Tan Khoen Swie. Berdasarkan foto tua yang ditunjukkan Gani kepada kediripedia.com, di bagian atas bangunan toko terdapat papan bertuliskan: Toko Tan Khoen Swie, Sedia Boekoe Djawa, Melajoe dan Ollanda.

“Toko buku ini mulai tidak terurus sekitar tahun 1962, ketika ditinggal Michael Tanzil ke Jakarta. Michael adalah putra bungsu sekaligus ahli waris tunggal Tan Khoen Swie,” kata Gani.

Pada awal abad-19, bagian belakang toko merupakan pusat penerbitan Tan Khoen Swie. Menurut Gani, banyak pihak menyebut Tan Khoen Swie sebagai cikal bakal penerbitan di Indonesia, yang memiliki peran penting dalam perubahan tradisi oral (lisan) ke tradisi tulis. Penerbitan itu menandai dimulainya era buku, menggantian tradisi tutur yang sebelumnya dikenal dengan bentuk tedhakan (turunan yang ditulis tangan).

Selain itu, bagian belakang rumah yang dibangun pada tahun 1939 tersebut juga merupakan rumah tinggal Tan Khoen Swie bersama keluarganya. Bagian rumah paling bersejarah adalah bangunan paling atas mirip klentheng berukuran sekitar 20 meter persegi. Untuk menuju ke loteng itu harus melalui lorong bertangga yang dipenuhi kamar. Menurut Gani, kamar-kamar itu dulunya dipakai tempat singgah para penulis atau sastrawan yang mencetakkan bukunya di boekhandel Tan Khoen Swie.

Bangunan tua di lantai tiga dilengkapi daun jendela bundar. Di dalamnya terdapat rak buku peninggalan Tan Khoen Swie. Belasan foto hitam putih pernah terpampang di dindingnya. Mulai foto keluarga Tan Khoen Swie, foto saat Boekhandel Kamadjoean ikut pameran di Yogyakarta, foto bersama Ki Padmosusastro (pengarang cerita Kancil Nyolong Timun) serta foto-foto aktivitas Tan Khoen Swie.

 


SI TUKANG RAKIT YANG SUKA MENGINTIP KERATON

Menurut Gani, tak ada yang tahu persis kapan Tan Khoen Swie dilahirkan. Namun dari berbagai referensi, diperkirakan Tan lahir di Wonogiri, Jawa tengah sekitar tahun 1883, dan meninggal pada tahun 1953 di Kediri. Jasadnya disemayamkan di bong (pemakaman) Cina di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri.

“Menurut cerita para sesepuh keluarga kami, Tan Khoen Swie adalah pengurus Kioe Kok Thwan, organisasi masyarakat Tionghoa di Kediri,” kata Gani.

Sebelum datang ke Kediri, Tan bekerja sebagai tukang rakit penyeberangan di Bengawan Solo. Dia tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah formal. Kemampuan baca tulis diperoleh dari seseorang yang setiap hari mengajar di Keraton Solo. Setelah mengantar orang menyeberang,  Tan Khoen Swie mengintip pelajaran budaya Jawa yang diajarkan di keraton. Suatu hari dia ketahuan mengintip. karena ketika sang guru memberi pertanyaan, tidak ada murid di keraton yang bisa menjawab. Dari atas rakit, Tan Khoen Swie menjawab pertanyaan tersebut, dan benar.

“Oleh sang guru, Tan dipanggil dan disuruh ikut belajar di keraton,” kisah Gani.


RAMBUT GONDRONG SIMBOL PERLAWANAN

Tan Khoen Swie datang ke Kediri dari daerah Jawa tengah dengan berjalan kaki. Kemudian ia menikah dengan gadis asal Surabaya bernama Liem Gien Nio. Setelah menikah, dia mencoba memulai usaha sebagai penerbit. Saat itu bisnis penebitan tak bisa diandalkan karena ketatnya aturan pemerintah kolonial tentang usaha penerbitan.

Pilihan terjun ke dunia penerbitan bukan tanpa alasan. Selain punya hobi menulis, Tan juga senang berdiam diri berbulan-bulan di tempat-tempat keramat. Karena kesenangannya itu, banyak orang menganggap dia memiliki kemampuan supranatural, bahkan mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

“Berdasarkan penelusuran kami, sejatinya kemampuan supranatural yang dimiliki Tan Khoen Swie diperoleh dari membaca buku,” kata Kusharsono, pensiunan pegawai Pemerintah Kota Kediri yang pada tahun 2002 ditunjuk pemerintah menjadi Ketua Tim Penelusuran Sejarah Tan Khoen Swie.

Namun, Gani yakin Tan Khoen Swie memang memiliki kemampuan supranatural. Hal ini terbukti ketika dia bersama dua rekannya, KH Fatah (Tulungagung) dan seorang peranakan Cina Kediri ditangkap tentara Jepang karena kegiatannya melawan pemerintah kolonial. Ketiga orang itu bisa lolos dari tahanan setelah mengalami penyiksaan luar biasa. Saat itu anus ketiga orang itu dipompa dan disuruh menjilati pipa besi yang membara. Ternyata semua siksaan tersebut tak mengakibatkan kesakitan apapun. “Karena tak mampu memberi siksaan lagi, ketiganya dilepas oleh tentara Jepang,” kata Gani.

Namun,  soal penerbitan dan urusan supranatural adalah dua hal yang berbeda. Menurut Gani, tentang penerbitan, kakeknya menggunakan pendekatan bisnis dan perjuangan untuk menyebarkan ide-ide. Sedangkan kemampuan supranatural tak berkait dengan gerak penerbitan. “Soal kebatinan dan supranatural lebih merupakan urusan pribadinya. Jadi sesungguhnya Tan Khoen Swie bukan paranormal,’ kata Gani.

Kegemaran Tan bertapa dan menyendiri sempat membuat cukup repot dan marah istrinya. Untuk mengendalikan pengembarannya, dibuatlah tempat bertapa di belakang rumahnya. Maksudnya agar Tan Khoen Swie bisa dekat keluarga. Bangunan itu kini masih ada. Bentuknya setengah lingkaran dengan ornamen lobang yang di kiri kanannya dilengkapi patung-patung kecil.

Menurut Gani, ada ciri khusus yang dianut Tan selama hidupnya, yaitu memelihara rambut panjang dan berkumis tebal. Menurut penuturan Tan Khoen Swie pada anak-anaknya, rambut gondrong itu merupakan pertanda, bahwa dia dan kelompoknya secara politik menentang penjajah, mulai kolonialis Belanda hingga Jepang. “Anda bisa lihat foto-foto lama, hampir semuanya yang terlibat dalam aktivitas penerbitannya berambut gondrong,” kata Gani.

Hal ini dibenarkan Kusharsono. Berkumis tebal dan berambut gondrong merupakan bentuk perlawanan orang Cina terhadap kekejaman penjajahan Jepang dan Belanda. “Itu merupakan gerakan bersama dan dilakukan diam-diam,” kata Kusharsono. 


MELAWAN TIRANI PENJAJAH DENGAN BUKU

Menurut Kusharsono, kecenderungan visi perlawanan Tan Khoen Swie merupakan dampak dari pergaulannya dengan sejumlah intelektual di masa menggeloranya pergerakan nasional. Hal itu memunculkan semangat antikolonialisme. Militansi Tan Khoen Swie dalam menentang penjajahan terlihat dari buku “Tjinta Kebaktian pada Tanah Air”, terbitan tahun 1941. Demikian pula dalam beberapa buku lain, seperti “Bhagawad Gita”, “Dewa Rutji”, dan “Bima Boengkoes”. Ketiga buku tersebut berkisah tentang cinta pada kebenaran dan tanah air.

Pada tahun 1935, sebuah majalah bulanan terbit di kota Kediri. Sebagian besar isinya memuat faham kebatinan Tionghoa. Majalah itu berbahasa Melayu dan isinya banyak mengupas tentang ajaran Tao, Khong Hu Cu, dan Buddha. Di media itu Tan Khoen Swie menjabat sebagai Pemimpin Redaksi, sekaligus redaktur dan penulis.

Di masa Presiden Soeharto, sekitar tahun 1982, ada dua buku terbit boekhandel Tan Khoen Swie dilarang beredar. Judul buku itu Gatolotjo dan Darmogandoel. Oleh pemerintah saat itu, buku Gatolotjo dianggap melecehkan agama. Padahal buku yang tebalnya tidak lebih dari 100 halaman itu hanya berisi tembang-tembang Jawa sebanyak 12 macam. Mulai Dandanggulo, Midjil, Kinanthi, Gambuh, Sinom, Pangkur dan Asmaradana.

“Kalau mau dipelajari betul, isi Gatolotjo tidak lebih dari sebuah kritikan yang dibahasakan lebih halus.,” kata Kusharsono.

Menurut Kusharsono, kelompok Tan Khoen Swie termasuk yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang berkuasa saat itu. Sehingga muncul gerakan-gerakan seperti menerbitkan Gatolotjo karangan RM Suwandi,Surakarta. Pada sampul depan buku itu tertulis : “Gatolotjo. Anjariosaken Bantahipun Gatolotjo Tanding Kalijan Dewi Perdjiwati, Dados Lambang Pamoring Djalu Wanito, Tuwin Dumadosipun Widjining Menuso.”

Buku asli yang masih menggunakan huruf jawa itu, dengan halaman sebanyak 145 halaman tersebut dijual dengan harga 1,75 gulden. Kini buku asli itu masih tersimpan di loteng.


BUKU-BUKU TERBITAN TAN KHOEN SWIE

Selain buku-buku yang sudah dicetak, buku yang dikarang dan masih ditulis tangan oleh Tan Khoen Swie masih ada. Diantaranya, Babat Gianti seri I dan II, Kitab Kaweruh Pakih dan Niti Soerti Watjana yang ditulis dengan tinta hitam. Bahasa yang ada di buku juga tak melulu bahasa Melayu dan berhuruf latin. Namun, ada juga buku berbahasa Jawa berhuruf latin, serta buku berbahasa Jawa berhuruf Jawa murdho atau huruf Jawa besar.

Bagi orang-orang sastra di Jawa yang hidup di bawah tahun 1950-an, tidak asing dengan nama besar Tan Khoen Swie. Sejumlah gagasan milik pujangga dan pengarang kenamaan dari berbagai kota di Jawa, pernah diterbitkan oleh boekhandel Tan Khoen Swie. Banyak kalangan yakin, kiprah Tan dalam dunia penerbitan mendahului Balai Pustaka, penerbit yang didanai Pemerintah Belanda sekitar tahun 1920-an.

Sejumlah buku-buku popular  yang diterbitkan diantaranya karya pujangga asal Surakarta R Ngabehi Ronggowarsito yang berjudul Kalatida. Selian itu juga Tiga Sastra dan Wedha Satya. Kitab Wulang Reh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Wedatama karya Mangkoenagoro IV, serta buku-buku karya R Ngabehi Yosodipuro dan pujangga Padmosusastro. Selain itu juga karya penulis asal Lumajang, Bojonegoro, Surabaya, Surakarta dan Yogyakarta.

“Mungkin nama besar para pujangga itu tidak akan muncul tanpa peran Tan Khoen Swie,” kata Kusharsono yang juga pernah menjadi Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kota Kediri.

Dari katalog yang tersusun, jumlah buku terbitan Tan Khoen Swie mencapai 400 judul. Buku yang diterbitkan tergolong lengkap dan multidisipliner, diantaranya tentang filsafat Jawa, pengetahuan olah rasa, pengetahuan tentang rahasia wanita, pengobatan tradisional, sejarah, dunia binatang, dan lain-lain.

– Dari sisi hukum, yang telah diterbitkan Tan Khoen  Swie misalnya: “Atoeran dari hal Melakoeken Hak Perkoempoelan dan Persidangan Dalem Hindia-Nederland” cetakan tahun 1932 yang dikarang oleh R Boedihardjo, Patih Loemadjang.

– Soal Sastra: Syair Percintaan, Pantun Penghibur Hati.

– Sejarah : Babad Mochamad (sejarah Nabi Muhammad), Babad Gianti dan Babat Tuban.

– Agama: Kawruh Pekih, Kabar Kiamat dan Budha Gutama, Kawroeh Mantig, Soeksma Wiwara, Ngelmi Panoedjoeman, Lajang Grajahan dan Begawan Senorodro. Buku-buku tersebut dicetak sekitar tahun 1920-an dan dijual dengan harga antara 0,35 – 0,95 gulden.

– Buku Pengetahuan Praktis : Kawruh Sanggama, Drajat Istri (kewanitaan), Primbon Ngadu Jago, Nitimani karya pengarang terkenal R Tanojo, yang banyak mengulas rahasia bersuami-istri, termasuk membahas liku-liku bersenggama. Demikian pula buku Asmaragama, yang dalam bahasa kini sex education..

– Buku Budi Pekerti ; Wedhatama, Jampi Susah, Paniti Baja.

– Buku Theosofi : Jati Murti, Kawruh Kasukman, Krida Grahita, Syech Siti Jenar.

– Pengetahuan soal Keris.

– Buku tentang Kitab Suci : Too Tik Keng, Tae Hak (berbahasa melayu), Ting Yong.

“Buku-buku kawruh kebatinan juga banyak diterbitkan dan digemari. Ini juga tak lepas dari strategi kontra penjajahan Belanda, yang akan langsung melarang pengedaran buku tertentu jika terlalu terang-terangan menentang rezim kolonial,” jelas Kusharsono.

Buku kebatinan yang telah diterbitkan antara lain berjudul Poestoko Rantjang, Tjipto Goegah, Sasmita Rahardja, Niti Prana, Djampi Gaib, juga Wedotomo. Ada lagi buku-buku petunjuk praktis, misalnya buku tulisan Tan Tek Sui tentang cara meramal.


BOEKHANDEL TAN KHOEN SWIE DIWARISKAN PADA SI BUNGSU

Dalam keluarga besar Tan Khoen Swie, tidak semua generasinya meneruskan kiprah di bidang penerbitan. Dari pernikahannya dengan Liem Gien Nio, Tan Khoen Swie mempunyai tiga anak, yaitu, Tan Poo Hwa Nio (meninggal di Kanada, menikah dengan Kwee Djie Hoo dan mempunyai enam orang anak), Tan Bian Hoo (meninggal muda di Jakarta, kawin dengan Nyoo Kiem Nio, Tan Bian Liong alias Michael Tanzil.

Michael Tanzil menikah tiga kali. Istri pertamanya seorang warga Amerika dan mempunyai dua anak. Istri keduanya Siane Lim asal Belanda juga mempunyai dua anak. Setelah cerai dengan kedua istrinya itu, Michael menyunting gadis kelahiran Wonosobo, Yuriah Tanzil yang pernah menjadi asisten fotografer di studionya di kawasan Bendungan Hilir Jakarta Pusat.

Michael merupakan satu-satunya anak Tan Khoen Swie yang memiliki perhatian lebih terhadap buku-buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie. Setelah Tan meeninggal pada tahun 1953, Michael yang mengelola toko buku sampai tahun 1963. Michael Tanzil selama itu juga menerbitkan beberapa buku baru dan mencetak ulang beberapa buku yang telah habis dan bekerja sama dengan penerbit lain.

Karena perhatiannya itulah, dalam surat wasiat yang dibuat Tan Khoen Swie pada 25 Juli 1952, dan disempurnakan dengan surat pembatalan pada 17 Maret 1953 (kedua surat itu dibuat di hadapan Notaris Raden Soedarmadji Soeriokoesoemo di Madiun), usaha penerbitan dan toko buku Boekhandel Tan Khoen Swie diserahkan ke Michael Tanzil, yang juga seorang arsitek lulusan Illionis Institut of Technology dan pernah menjadi fotografer di Associated Press.

“Menurut Tante Yuriah Tanzil, untuk buku-buku yang sudah dicetak, 60 persen menjadi hak Michael Tanzil. Sedangkan yang belum dicetak, merupakan hak penuh Michael Tanzil,” kata Gani menuturkan soal hak kepemilikan buku-buku Tan Khoen Swie.

Sejak tahun 1962, Michael Tanzil bermukim di Jakarta dan mondar-mandir Jakarta-Kediri untuk mengurus toko buku warisan ayahnya. Karena tidak di kelola sendiri dan Michael semakin sibuk di Jakarta, maka beberapa tahun kemudian ditutuplah toko buku TAN KHOEN SWIE dan buku-bukunya tetap disimpan di gudang. Michael mulai terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 1971, di United Press Amerika.

Kemudian mulai tahun 1974 sampai 1984 sebelum kena stroke, ia bekerja sebagai stringer NBC News di Jakarta. Dan pada tahun 1980, sempat menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi Maritim Reviews. Film dokumenter tentang pembangunan LNG Arun di Aceh dan pengeboran minyak lepas pantai oleh Total Indonesie di Balikpapan Kalimantan Timur, juga pernah digarapnya pada tahun 1975-1976.

Sebelum meninggal dunia pada 14 Maret 1993, dalam kondisi lumpuh separuh badan setelah menderita stroke selama 9 tahun, Michael sempat menulis surat wasiat pada secarik kertas, yang berbunyi :

Wasiat

Saya Michael Tanzil

Dalam keadaan sadar menulis surat wasiat ini

  1. Karna kesehatan saya menurun
  2. Saya serahkan rumah, lukisan dan hak penerbit dan semua buku kepada istri saya, Yuriah Tanzil supaya anak saya rukun.

24-12 –90, Hari Natal

“Michael juga berpesan, hak penerbit tidak boleh dijual dan istrinya supaya memilih kembali buku-buku yang bisa diterbitkan kembali dalam bahasa Indonesia, supaya bisa dibaca dan dimengerti masyarakat luas,” tambah Gani.


AHLI WARIS MENERBITKAN ULANG SERAT BABAD KADIRI

Pemerintah Kota Kediri pada November 2001 membentuk Panitia Penelusuran Pelestarian dan Pengembangan Wisata dan Budaya. Pada 30 Maret 2002, tim yang dibentuk melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 1216 tahun 2002 itu mulai melakukan pelacakan ke Solo.

“Tugas tim melacak dan mendapatkan kembali buku-buku terbitan Tan Khoen Swie dari berbagai sumber, termasuk dari berbagai tempat di Solo dan Yogyakarta,” kata Kusharsono.

Selain sastrawan Tan Khoen Swie, makam ulama Syech Sulaiman al Wasil di Kediri dan tokoh kejawen tempo dulu, Ponco Legowo juga menjadi sasaran tim ini.

Kepada keluarga ahli waris Tan Khoen Swie, Walikota Kediri HA Maschut mengharapkan buku-buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie diizinkan untuk dicetak ulang. Untuk operasional tim, walikota menyumbang dana 15 juta rupiah.

Jika keluarga ahli waris Tan menginjinkan, Pemerintah Kota Kediri akan memasukkan buku-buku cetak ulang itu ke Museum Airlangga, sebagai bukti atas pengakuan bahwa karya Tan Khoen Swie yang merupakan bagian dari sejarah Kota Kediri. Bekas toko buku Tan Khoen Swie dan kediaman Tan akan dijadikan situs budaya untuk obyek wisata ritual untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Menurut dr Gani, sikap seluruh ahli waris menyambut niat baik Pemerintah Kota Kediri mengangkat kembali sejarah Tan Khoen Swie. Apalagi akan menempatkan buku-buku Tan Khoen Swie di Museum Airlangga Goa Selomangleng. Tapi soal keinginan mencetak ulang buku-buku itu, menurut Gani masih belum mendapat lampu hijau dari Yuriah Tanzil selaku ahli waris.

Menurut Gani, niat mengangkat Tan Khoen Swie sebaiknya tidak terjebak dalam hal-hal mistik belaka. Lebih baik jika buku-buku Tan Khoen Swie dijadikan bahan diskusi rutin di bekas kediaman Tan. “Manfaat secara keilmuan akan jauh lebih penting, agar tidak menjadi tempat wingit,” kata Gani.

Upaya menerbitkan kembali sejumlah buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie pernah berhasil dilakukan. Sekitar tahun 2003, buku Serat Babad Kadiri karya Mas Ngabehi Purbawijaya cetakan tahun 1922 dan diperbaikiki oleh Mangun Wijaya pada tahun 1932, diterbitkan ulang atas prakarsa Gani dengan seijin Yuriah. Bahkan, lembaga penerbit buku itu menggunakan kembali nama Boekhandel Tan Khoen Swie dan tetap beralamat di Jalan Doho, Kota Kediri, Jawa Timur.

Proses pencarian naskah asli terbantu oleh Ny Halimah,warga Donayan, Kelurahan Semampir, Kota Kediri. Pada tahun 1978, Halimah mendapatkan buku itu dari ayahnya yang dulu bekerja di penerbitan Tan Khoen Swie. Oleh Halimah, buku berteks huruf Jawa Kuno itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa latin, kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

“Sayangnya, buku Serat Babad Kadiri milik Bu Halimah yang asli hilang setelah dipinjam kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Kediri tak lama setelah Bu Halimah menerjemahkannya,” kata Gani.

Untungnya, Gani bisa mendapatkan buku asli dari sebuah toko buku bekas di Yogjakarta. Sehingga naskah asli buku yang ditulis dalam teks bahasa Jawa Kuno itu bisa dilampirkan ke dalam buku terbitan ulang berbahasa Indonesia. “Jadi, keberhasilan menerbitkan ulang itu sekaligus merupakan upaya menghidupkan kembali buku Serat Babad Kadiri yang hilang.”